BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Teori Rational Emotive
Behavior Therapy
Teori
Rational Emotive Behavior Therapy dikembangkan untuk pertama kalinya pada 1955,
Albert Ellis menyebut pendekatannya dengan rational Therapy (RT) (terapi
rasional). Pada 1961, ia mengubah namanya menjadi rational emotive therapy
(RET) (terapi rasional emotif). Pada 1993, Ellis (1993a) mengubah nama lagi
menjadi rational emotive behavior therapy (REBT) (terapi perilaku rasional
emotif). Yang dimaksud Ellis dengan “rasional” adalah kognisi yang efektif
dalam membantu diri dari pada kognisi
yang sekadar valid secara empiris maupun logis. Ia berharap bahwa dirinya telah
menggunakan kata kognitif sejak awal karena banyak orang membatasi secara
sempir kata rasional yang mengandung maksud intelektual atau ligis empiris.
Rationalitas orang menyandarkan diri pada memutuskan dengan cara yang masuk
akal mana keinginan atau preferensi yang akan diikuti dan, oleh sebab itu,
didasarkan pada pikiran,emosi, dan perasaab (Ellis,1990).
B. Perkembangan Perilaku Teori Rasional
Emotif Behavior Therapy
1. Struktur
Kepribadian
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian
dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang
membangun tingkah laku individu, yaitu Activating event (A), Belief (B),
dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal
dengan konsep atau teori ABC.
a. Activating event (A)
Segenap
peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang
berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu
keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan
antecendent event bagi seseorang.
b. Belief (B)
Keyakinan,
pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa.
Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational
Belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrational Belief atau
iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau sistem keyakinan yang
tepat, masuk akal, bijaksana dan karena itu menjadi produktif. Keyakinan yang
tidak rasional merupakan keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah,
tidak masuk akal, emosional dan karena itu tidak produktif.
c. Emotional consequence (C)
Konsekuensi emosional sebagai akibat
atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam
hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan
akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam
bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
d. Disputing (D)
Terdapat
tiga bagian dalam tahap disputing, yaitu:
1)
Detecting
irrational beliefs
Konselor
menemukan keyakinan konseli yang irasional dan membantu konseli untuk menemukan
keyakinan irasionalnya melalui persepsinya sendiri.
2)
Discriminating
irrational beliefs
Biasanya
keyakinan irasional diungkapkan dengan kata-kata: harus, pokoknya atau
tuntutan-tuntutan lain yang tidak realistik. Membantu konseli untuk mengetahui
mana keyakinan yang rasional dan yang tidak rasional.
3)
Debating
irrational beliefs
Beberapa
strategi yang dapat digunakan:
a)
The
lecture (mini-lecture), memberikan
penjelasan.
b)
Socratic
debate, mengajak
klien untuk beradu argumen.
c)
Humor,
creativity seperti:
cerita, metaphors, dll.
d)
Self-disclosure: keterbukaan konselor tentang
dirinya (kisah konselor, dll).
Hasil akhir dari proses A-B-C-D
berupa Effect (E). Effect (E) adalah satu filosofi efektif yang
memiliki sisi praktis. Suatu sistem keyakinan yang baru dan efektif terdiri
dari penggantian pemikiran yang tidak sehat dengan pemikiran yang sehat. Jika
berhasil melakukan hal tersebut maka akan timbul new feeling (F) yaitu
satu perangkat perasaan yang baru.
Ellis
mempunyai teori ABC kepribadian yang kemudian ditambahkan dengan D dan E untuk
memasukan perubahan dan hasil yang diharapkan dari perubahan. Selain itu, huruf
G dapat diletakan terlebih dahulu untuk memberikan konteks bagi ABC seseorang :
G Goals (tujuan), fundamental dan primer.
A Adversities
(kesulitan/kemalangan) atau activating events (kejadian yang mengaktifkan)
dalam kehidupan seseorang.
B Beliefs (keyakinan), rasional dan
irasional.
C Consequences (konsekuensi), emosional
dan perilaku.
D Disputing (melawan) keyakinan irasional.
E Effective new
philosophy of life (filosofi hidup yang baru dan efektif)[1].
Seperti halnya kognisi,
emosi dan perilaku saling berinteraksi dan nyaris dan tidak pernah sepenuhnya
murni, jadi ABC didalam REBT pun demikian pula halnya.
2. Pribadi Sehat dan Bermasalah
a. Pribadi Sehat
Individu yang dapat berpikir secara rasional dalam
menanggapi setiap rangsangan terhadap dirinya.
Pribadi sehat dalam REBT adalah Self-interest, Social interest,
Self-direction, High frustration tolerance, Flexibility,
Acceptance of uncertainty, Commitment to creative pursuits, Scientific
thinking, Self-acceptance, Long-range hedonism, Self-responsibility
for own emotional disturbance[2].
b. Pribadi Bermasalah
Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif
tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara
berpikir yang irrasional. Terdapat tujuh faktor yang dapat digunakan untuk
mendeteksi pikiran irasional, yaitu:
1) Lihat pada generalisasi yang
berlebihan (overgeneralization)
2) Lihat pada distorsi (distortion)
3) Lihat pada hal-hal yang dihapus (deletion)
4) Lihat pada hal-hal yang dianggap
tragedi atau bencana (catastrophising)
5) Lihat pada penggunaan kata-kata absolute.
6) Lihat pada pernyataan yang
menunjukkan ketidaksetujuan terhadap sesuatu atau seseorang yang konseli pikir
mereka tidak dapat menahannya.
7) Lihat pada ramalan atau prediksi
masa depan.
Pribadi Bermasalah pada REBT adalah All-or-none
thinking, Jumping to conclusions and negative non sequiturs, Fortune-telling,
Focusing on the negative, Disqualifying the positive, Allness and neverness,
Minimization, Emotional reasoning, Labeling and overgeneralization,
Personalizing, Phonyism, Perfectionism[3].
C. Pengertian dan Konsep Dasar Terapi
Rasional Emotif Behavioral
Rational
Emotive Therapy atau Teori Rasional
Emotiv mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Albert Ellis,
seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang
eksistensialis sekaligus seorang Neo Freudian. Yang dimaksud Ellis dengan
“rasional” adalah kognisi yang efektif dalam membantu diri dari pada kognisi
yang sekadar valid secara empiris maupun logis[4].
Rasionalitas orang menyandarkan diri pada memutuskan dengan cara yang masuk
akal mana keinginan atau preferensi yang akan diikuti dan oleh sebab itu
didasarkan pada pikiran, emosi dan perasaan.
Pada mulanya Ellis menggunakan psikoanalisis dan person-centered
therapy dalam proses terapi, namun ia merasa kurang puas dengan pendekatan
dan hipotesis tingkah laku konseli yang dipengaruhi oleh sikap dan persepsi
mereka. Hal inilah yang memotivasi Ellis mengembangkan pendekatan rational
emotive dalam psikoterapi yang dipercaya dapat lebih efektif dan efisien
dalam memberikan efek terapeutik. Ellis mengembangkan teori A-B-C, dan kemudian
dimodifikasi menjadi pendekatan A-B-C-D-E-F yang digunakan untuk memahami
kepribadian dan untuk mengubah kepribadian secara efektif[5].
Awalnya, terapi rasional menekankan unsur kognitif dari
perilaku manusia dan diperluas dengan memasukkan unsur perilaku disamping unsur
kognitif. Selanjutnya berkembang pada unsur emosi dan mencakup teknik-teknik
konseling perilaku seperti relaksasi, metode khayal dan latihan menyerang
perasaan malu.
Rational
emotive adalah teori yang
berusaha memahami manusia sebagaimana adanya. Manusia adalah subjek yang sadar
akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya. Manusia adalah
makhluk berbuat dan berkembang dan merupakan individu dalam satu kesatuan yang
berarti manusia bebas, berpikir, bernafas dan berkehendak.
Pendekatan
behavioral memandang bahwa masalah yang dihadapi individu dikarenakan individu
salah dalam membuat keputusan atau mengambil sikap untuk melakukan suatu
tindakan. Oleh karena itu, pendekatan ini (pendekatan perilaku) di dalam
konselingnya menekankan pada perilaku spesifik, yaitu perilaku yang memang
berbenturan atau yang berlawanan dengan lingkungan dan diri konseli sendiri.
Pendekatan
ini lebih bersifat suatu pelatihan
terhadap perilaku konseli, maka pendekatan ini menekankan pada teknik dan
prosedur untuk memfasilitasi perubahan perilaku pada diri konseli. Sehingga
pendekatan behavioral ini lebih mementingkan penggunakan teknik pengubah
perilaku (behavior modification).
Peran konselor di sini sebagai model bagi konseli dari pada kualitas hubungan
konseling. Pendekatan konseling ini termasuk juga konseling behavioristik dan
konseling realitas.
Yang
dimaksud dengan konseling RET atau yang lebih dikenal dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)
adalah konseling yang menekankan dan interaksi berfikir dan akan sehat (rational thinking), perasaan (emoting) dan berperilaku (acting). Bahwa teori ini menekankan
bahwa suatu perubahan yang mendalam terhadap cara berpikir dapat
menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.
D. Teknik-teknik Konseling
Teori Rational Emotif Behavior Therapy
Pendekatan
REBT menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif dan behavioral
yang disesuaikan dengan kondisi konseli.
a. Teknik-teknik
Kognitif
1)
Disputing
irrational beliefs
Konseling
secara aktif mempersoalkan keyakinan tidak rasional dan konselor mengajari
konseli cara mengatasi tantangan ketidakrasionalanya sampai ia mampu
menghilangkan dan melunturkan kata “harus” dalam dirinya.
2)
Doing
cognitive homework
Konseli membuat daftar masalah mereka,
mencari keyakinan absolut mereka dan mempertentangkan keyakinan-keyakinan
tersebut.
3)
Changing
one’s language
Konseli
mempelajari bagaimana menyatakan bahasa yang tepat agar tidak terjadi pemikiran
dan perilaku yang disfungsional.
4)
Psychoeducational
methods
Memperkenalkan
konseli dengan berbagai macam komponen pendidikan dan membelajarkan konseli
tentang hakikat permasalahan mereka dan bagaimana proses mengatasinya.
b. Teknik-Teknik
Emotif (Afektif)
1)
Rational
emotive imagery
Konseli didorong untuk membayangkan salah
satu kejadian pengaktif atau kesulitan terburuk yang dapat terjadi pada dirinya
dan membayangkan dengan jelas kesulitan ini sedang terjadi dan membawa sejumlah
masalah ke dalam hidupnya.
2)
Using
humor
Penggunaan humor dapat membantu mengurangi
keyakinan-keyakinan irasional dan perilaku self-defeating.
Humor bisa sangat berharga untuk membantu konseli lebih santai dan tidak
menganggap terlalu serius masalah hidup.
3)
Role
playing
Konselor menginterupsi untuk menunjukkan
pada konseli bahwa apa yang mereka katakan sendiri pada konseli untuk mengubah
perasaan yang tidak sehat menjadi perasaan yang lebih sehat
4)
Shame-attacking
exercises
Latihan untuk membantu orang mengurangi
perasaan malu dalam melakukan sesuatu yang. Latihan ini ditujukan untuk
meningkatkan penerimaan diri dan tanggung jawab serta membantu konseli
memamndang bahwa sebagaian besar perasaan mereka tentang rasa malu berkaitan
dengan cara mereka mengenali kenyataan.
5)
Use
of force and vigor
Penggunaan kekuatan dan energi sebagai
salah satu cara untuk membantu konseli berpindah dari berwawasan intelektual
menjadi berwawasan emosional.
c. Teknik-teknik
Behavioristik
Teknik ini konselor menggunakan prosedur
behavioral standar, seperti pengkondisian operant, prinsip manajemen
diri, desensitisasi sistematis, teknik relaksasi dan permodelan.
E. Hakikat Manusia
Menurut Teori
Manusia
merupakan makhluk yang diciptakan dengan sempurna. Sehingga mempunyai potensi
untuk kembali kesempurnaannya, apabila individu mengalami beberapa masalah
dalam dirinya. Dengan kesempurnaannya, individu dibekali akal untuk melakukan
atau bertindak sesuai dengan kemampuan dan kondisi dirinya.
Teori
Rasional Emotiv Behaviour Terapi adalah aliran yang berlandaskan asumsi bahwa
manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berfikir rasional dan jujur
maupun berpikir irasional atau jahat. Manusia memiliki kecenderungan untuk
memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan mencintai, bergabung
dengan yang lain serta tumbuh dan mengaktualkan diri dan manusia juga mempunyai
kecenderungan untuk berbuat yang sebaliknya serta manusia juga mempunyai
kecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang fungsional
dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Manusia
bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh
naluri-naluri. Manusia sebagai individu yang unik dan memiliki kekuatan untuk
memahami keterbatasan-keterbatasan untuk mengubah pandangan-pandangan dan
nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa
kanak-kanak dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri
sendiri.
Reaksi
emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interprestasi dan
filosofi yang didasari maupun tidak disadari oleh individu. Hambatan emosional
adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan penuh prasangka. Berpikir
irrasional itu diawali dari berpikir yang tidak logis yang diperoleh oleh orang
tua dan kultur tempat dibesarkan.
Pandangan
Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah:
1. Manusia
mengkondisikan diri sendiri tehadap munculnya perasaan yang menggangggu
pribadinya.
2. Kecenderungan
biologisnya sama dengan kecenderungan kultural untuk berpikir salah dan tidak
ada gunanya, berakibat mengecewakan diri sendiri.
3. Kemanusiannya
yang unik untuk menemukan dan mencipta keyakinan yang salah, yang mengganggu,
sama halnya dengan kecenderungan mengecewakan dirinya sendiri karena
gangguan-gangguannya .
4. Kemampuannya
yang luar biasa untuk mengubah prores-proses
kognitif, emosi dan prilaku, memungkinkan dapat:
a. Memilih
reaksi yang berbeda dengan biasa dengan yang biasanya dilakukan.
b. Menolak
mengecewakan diri sendiri terhadap
hampir semua hal yang mungkin terjadi.
c. Melatih
diri sendiri agar secara setengah otomatis mempertahankan gangguan sesedikit
mungkin sepanjang hidupnya.
Pendekatan
terapi rasional emotif menganggap bahwa manusia pada hakekatnya adalah korban
dari pola berpikirnya sendiri yang tidak rasional dan tidak benar. Kerena itu
pendekatan humanistik terlalu lunak dan mengakibatkan persoalan pada diri
sendiri karena berfikir tidak rasioanal. Karena itu terapis dengan pendekatan
ini berusaha memperbaiki melalui pola berpikirnya dan menghilangkan pola pikir
yang tidak rasional.
F. Peran
Konseling dalam Teori Rational Emotive Behavior Therapy
Berdasarkan
pandangan tentang hakekat manusia tersebut di atas, maka dapat kita menarik
garis untuk memahami dan mengerti hakekat konseling yang tidak akan lepas dan
sangat berhubungan dengan hakekat manusia itu sendiri. Karena konseling
merupakan suatu proses yang membantu permasalahan yang dialami dan rasakan
manusia. Oleh karena itu untuk dapat menjabarkan dari hakekat manusia ada
beberapa hakekat dari konseling yang perlu diperhatikan sebagaimana berikut:
1.
Psikologi konseling merupakan suatu proses
pengalaman individu dengan penekanan pada pemikiran sehingga hubungan antar
konselor dan klien sangat rasional.
2.
Psikologi konseling merupakan suatu
hubungan yang bersifat pribadi antar konselor dan konseli yang ditujukan untuk
membantu konseli dalam memahami, menerima, mengarahkan dan mengaktualisasikan
diri.
3.
Psikologi konseling berusaha untuk
membantu konseli dalam mengembangkan dirinya sesuai dengan nilai-nilai pribadi
dan nilai-nilai masyarakat di sekitarnya.
4.
Oleh karena itu psikologi konseling merupakan
konsep membantu konseli yang lebih luas dari pada konsep psikoterapi, karena
psikologi konseling memperhatikan keseluruhan aspek individu sebagai pribadi
yang menghadapi berbagai masalah untuk menemukan jati dirinya dan menyadari
potensi dirinya dalam kehidupan.
5.
Dengan dasar bahwa manusia pada dasarnya
adalah baik, maka dalam proses psikologi konseling berusaha untuk mengembalikan konseli kepada potensi dasarnya[6].
Dengan
hakekat tersebut, maka sebagai seorang psikolog konseling harus dapat melakukan
proses konseling sebaik mungkin agar hakekat konseling tidak menyimpang atau tidak sesuai dengan hakekat
individu itu sendiri.
Oleh
karena itu pengetahuan dan pemahaman tentang konseling sangat berarti bagi
konselor itu sendiri, pengetahuan tersebut adalah bagaimana proses konseling,
langkah-langkah dan tahapan dari konseling.
REBT
menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus untuk
mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama
oleh konselor dan konseli. Karakteristik proses REBT adalah sebagai berikut:
a.
Aktif-direktif
Artinya
hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan konseli dalam
menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b.
Kognitif-eksperiensial
Artinya
hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari konseli
dan
berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c.
Emotif-ekspreriensial
Artinya
hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi konseli
dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar
akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
d.
Behavioristik
Artinya
hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong
terjadinya perubahan tingkah laku konseli.
G. Kelemahan dan Kelebihan Teori
Rational Emotive Behavior Therapy
1. Kelebihan
a. Pendekatan
REBT jelas, mudah dipelajari dan efektif. Kebanyakan konseli hanya mengalami
sedikit kesulitan dalam mengalami prinsip ataupun terminologi REBT.
b. Pendekatan
REBT dapat dengan mudahnya dikombinasikan dengan teknik tingkah laku lainnya
untuk membantu konseli mengalami apa yang mereka pelajari lebih jauh lagi.
c. Pendekatan
REBT relatif singkat dan konseli dapat melanjutkan penggunaan pendekatan ini
secara swa-bantu.
d. Pendekatan
ini telah menghasilkan banyak literatur dan penelitian untuk konseli dan
konselor. Hanya sedikit teori lain yang dapat mengembangkan materi biblioterapi
seperti ini dan terus-menerus berevolusi selama bertahun-tahun dan
teknik-tekniknya telah diperbaiki selanjutnya, dibuktikan efektif dalam merawat
gangguan kesehatan mental parah seperti depresi dan kecemasan.
2. Kelemahan
a. Pendekatan
ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu yang mempunyai gangguan
atau keterbatasan mental, seperti schizophrenia dan mereka yang mempunyai
kelainan pemikiran yang berat.
b. Pendekatan
ini terlalu diasosiasikan dengan penemunya, Albert Ellis. Banyak individu yang
mengalami kesulitan dalam memisahkan teori dari keeksentrikan Ellis.
c. Pendekatan
ini langsung dan berpotensi membuat konselor terlalu fanatik dan ada kemungkinan
tidak merawat konseli seideal yang semestinya.
d. Pendekatan
yang menekankan pada perubahan pikiran bukanlah cara yang paling sederhana
dalam membantu konseli mengubah emosinya.
H. Implementasi
dalam Bimbingan dan Konseling di Sekolah
1. Tujuan
Tujuan
utama REBT berfokus pada membantu konseli untuk menyadari bahwa mereka dapat
hidup rasional dan produktif. REBT membantu konseli agar berhenti membuat tuntutan dan merasa kecal melalui
kekacauan, konseli dalam REBT dapat mengekspresikan beberapa perasaan negatif,
tetapi tujuan utamanya adalah membantu klien agar tidak memberikan tanggapan
emosional melebihi yang selayaknya tehadap sesuatu peristiwa.
REBT
juga mendorong konseli untuk lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang
lain, serta mengajak mereka untuk mencapai tujuan pribadi. Tujuan tersebut
dicapai dengan mengajak orang berfikir rasional untuk mengubah tingkah laku
menghancurkan diri dan dengan membantunya mempelajari cara bertindak yang baru.
2. Sikap,
Peran dan Tugas Konselor
Tugas utama konselor dalam hal ini secara
pokok ada dua:
a. Interpersonal,
yaitu membangun hubungan terapeutik,
membangun rapport, dan suasana kolaboratif.
b. Organisational,
yaitu bersosialisasi dengan konseli untuk memulai terapi, mengadakan proses
assesmen awal, menyetujui wilayah masalah dan membangun tujuan konseling.
Konselor
harus aktif dan langsung. Mereka adalah instruktur yang mengajarkan dan
membetulkan kognisi konseli. Melawan keyakinan yang tertanam kuat membutuhkan
lebih dari sekedar logika. Dibutuhkan repetisi dan konsistensi. Oleh karena
itu, konselor harus menyimak dengan cermat untuk menemukan pernyataan tidak
logis atau salah dari konselinya dan keyakinan yang bertentangan. Konselor
harus cerdas, berwawasan, empatik, respek, tulus, konkret, bertekad kuat, ilmiah,
berminat membantu orang lain dan pengguna REBT.
Terapis
REBT menganggap bahwa kondisi fasilitatif inti dari empati, penerimaan tanpa
syarat dan keaslian sering diinginkan, namun itu tidak cukup untuk merubah
dalam terapi konstruktif. Untuk membantu perubahan tersebut terjadi, terapis
REBT perlu membantu konseli mereka untuk melakukan hal berikut:
a. Sadarilah
bahwa sebagian besar masalah psikologis ditimbulkan oleh individu itu sendiri.
b. Mengakui
sepenuhnya bahwa individu itu mampu mengatasi masalahnya.
c. Memahami
bahwa masalah individu berasal dari sebagian besar keyakinan mereka yang
irasional.
d. Mendeteksi
keyakinan irasional dan membedakannya dengan
keyakinan rasional individu.
e. Periksa
keyakinan irasional individu dan keyakinan rasional individu sampai individu
itu melihat dengan jelas bahwa keyakinan irasional individu itu adalah palsu,
tidak logis dan tidak konstruktif, sementara keyakinan rasional individu benar,
masuk akal dan konstruktif.
f. Berusaha
menuju internalisasi keyakinan baru indvidu yang irasional dengan menggunakan
berbagai metode kognitif (termasuk imaginal),
emosi dan metode perubahan perilaku. Dalam tindakan tertentu dengan cara-cara
yang konsisten dengan keyakinan rasional individu ingin mengembangkan dan
menahan diri dari bertindak dengan konsisten menggunakan keyakinan lemah
individu yang irasional.
g. Perluas
proses pemeriksaan keyakinan dan menggunakan metode perubahan multimodal ke
daerah kehidupan mereka yang lain dan berkomitmen untuk melakukannya selama
diperlukan.
3. Sikap,
Peran dan Tugas Konseli
Umumnya,
peran konseli dalam REBT mirip seorang siswa atau pelajar. Proses konseling
dipandang sebagai suatu proses reedukatif di mana konseli belajar cara
menerapkan pikiran logis pada pemecahan masalah.
Pengamalan
utama konseli adalah mencapai pemahaman emosional atas sumber-sumber gangguan
yang dialaminya. Pada taraf pertama, konseli menjadi sadar bahwa ada anteseden
tertentu yang menyebabkan timbulnya irrasional belief. Taraf kedua,
konseli mengakui dirinyalah yang sekarang mempertahankan pikiran-pikiran dan
perasaan-perasaan yang irasional. Tahap ketiga, konseli berusaha untuk
menghadapi secara rasionalemotif, memikirkannya, dan berusaha menghapus
irasional belief dan mengggantinya dengan rasional belief.
Konseli
yang telah memiliki keyakinan rasional terjadi peningkatan dalam hal:
a. Minat
kepada diri sendiri
b. Minat
sosial
c. Pengarahan
diri
d. Toleransi
terhadap pihak lain
e. Fleksibel
f. Menerima
ketidakpastian
g. Komitmen
terhadap sesuatu di luar dirinya
h. Penerimaan
diri
i.
Berani mengambil risiko
j.
Menerima kenyataan
4. Situasi
Hubungan
Karena
REBT pada dasarnya adalah proses perilaku kognitif dan direktif, sebuah
hubungan intens antara terapis dan konseli tidak diperlukan. Seperti halnya
terapi person centered Rogers, praktisi REBT menerima tanpa syarat
semua konseli dan juga mengajarkan mereja untukm menerima orang lain tanpa
syarat dan diri mereka sendiri.
Namun,
Ellis yakin bahwa terlalu banyak kehangatan dan pemahaman dapat menjadi kontra
produktif dengan menumpuk rasa ketergantungan persetujuan dari terapis.
Praktisi REBT menerima konseli mereka sebagai makhluk tidak sempurna yang dapat
dibantu melalui berbagai teknik mengajar, biblioterapi dan modifikasi perilaku.
Ellis membangun hubungan dengan konseli dengan menunjukkan kepada mereka bahwa
ia memiliki iman yang besar dalam kemampuan mereka untuk merubah diri mereka
sendiri dan bahwa ia memiliki alat untuk membantu mereka melakukan hal ini.
Terapis
REBT sering terbuka dan langsung dalam pengungkapan keyakinan diri dan
nilai-nilai. Mereka bersedia untuk berbagi ketidaksempurnaan diri mereka
sebagai cara untuk memperjuangkan gagasan realistis konseli. Itu adalah penting
untuk membangun sebanyak mungkin hubungan egaliter, sebagai lawan untuk
menghadirkan diri sebagai sebuah otoritas.
[1]
Op.Cit, hlm.501-502.
[3] Ibid.,
[4]
Richard Nelson-Jones, Teori dan Praktik
Konseling dan Terapi, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011) hlm.491
[5]
http://bimbingandankonseling07.blogspot.com/2012/11/rebt-rational-emotive-behavior-therapy.html
[6]
Abubakar Baraja, Psikologi Konseling dan Teknik
Konseling, (Jakarta: Studia Press, 2004) hlm. 30.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar