Senin, 15 Mei 2017

teori REBT

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Teori Rational Emotive Behavior Therapy
Teori Rational Emotive Behavior Therapy dikembangkan untuk pertama kalinya pada 1955, Albert Ellis menyebut pendekatannya dengan rational Therapy (RT) (terapi rasional). Pada 1961, ia mengubah namanya menjadi rational emotive therapy (RET) (terapi rasional emotif). Pada 1993, Ellis (1993a) mengubah nama lagi menjadi rational emotive behavior therapy (REBT) (terapi perilaku rasional emotif). Yang dimaksud Ellis dengan “rasional” adalah kognisi yang efektif dalam membantu  diri dari pada kognisi yang sekadar valid secara empiris maupun logis. Ia berharap bahwa dirinya telah menggunakan kata kognitif sejak awal karena banyak orang membatasi secara sempir kata rasional yang mengandung maksud intelektual atau ligis empiris. Rationalitas orang menyandarkan diri pada memutuskan dengan cara yang masuk akal mana keinginan atau preferensi yang akan diikuti dan, oleh sebab itu, didasarkan pada pikiran,emosi, dan perasaab (Ellis,1990).

B.     Perkembangan Perilaku Teori Rasional Emotif Behavior Therapy
1.      Struktur Kepribadian
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Activating event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
a.       Activating event (A)
Segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.


b.      Belief (B)
Keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational Belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrational Belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana dan karena itu menjadi produktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional dan karena itu tidak produktif.
c.       Emotional consequence (C)
Konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
d.      Disputing (D)
Terdapat tiga bagian dalam tahap disputing, yaitu:
1)        Detecting irrational beliefs
Konselor menemukan keyakinan konseli yang irasional dan membantu konseli untuk menemukan keyakinan irasionalnya melalui persepsinya sendiri.
2)        Discriminating irrational beliefs
Biasanya keyakinan irasional diungkapkan dengan kata-kata: harus, pokoknya atau tuntutan-tuntutan lain yang tidak realistik. Membantu konseli untuk mengetahui mana keyakinan yang rasional dan yang tidak rasional.
3)        Debating irrational beliefs
Beberapa strategi yang dapat digunakan:
a)      The lecture (mini-lecture), memberikan penjelasan.
b)      Socratic debate, mengajak klien untuk beradu argumen.
c)      Humor, creativity seperti: cerita, metaphors, dll.
d)      Self-disclosure: keterbukaan konselor tentang dirinya (kisah konselor, dll).
Hasil akhir dari proses A-B-C-D berupa Effect (E). Effect (E) adalah satu filosofi efektif yang memiliki sisi praktis. Suatu sistem keyakinan yang baru dan efektif terdiri dari penggantian pemikiran yang tidak sehat dengan pemikiran yang sehat. Jika berhasil melakukan hal tersebut maka akan timbul new feeling (F) yaitu satu perangkat perasaan yang baru.
Ellis mempunyai teori ABC kepribadian yang kemudian ditambahkan dengan D dan E untuk memasukan perubahan dan hasil yang diharapkan dari perubahan. Selain itu, huruf G dapat diletakan terlebih dahulu untuk memberikan konteks bagi ABC seseorang :
G        Goals (tujuan), fundamental dan primer.
A        Adversities (kesulitan/kemalangan) atau activating events (kejadian yang mengaktifkan) dalam kehidupan seseorang.
B        Beliefs (keyakinan), rasional dan irasional.
C        Consequences (konsekuensi), emosional dan perilaku.
D        Disputing (melawan) keyakinan irasional.
E         Effective new philosophy of life (filosofi hidup yang baru dan efektif)[1].
Seperti halnya kognisi, emosi dan perilaku saling berinteraksi dan nyaris dan tidak pernah sepenuhnya murni, jadi ABC didalam REBT pun demikian pula halnya.

2.      Pribadi Sehat dan Bermasalah
a.       Pribadi Sehat
Individu yang dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi setiap rangsangan terhadap dirinya.
Pribadi sehat dalam REBT adalah Self-interest, Social interest, Self-direction, High frustration tolerance, Flexibility, Acceptance of uncertainty, Commitment to creative pursuits, Scientific thinking, Self-acceptance, Long-range hedonism,  Self-responsibility for own emotional disturbance[2].
b.      Pribadi Bermasalah
Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Terdapat tujuh faktor yang dapat digunakan untuk mendeteksi pikiran irasional, yaitu:
1)      Lihat pada generalisasi yang berlebihan (overgeneralization)
2)      Lihat pada distorsi (distortion)
3)      Lihat pada hal-hal yang dihapus (deletion)
4)      Lihat pada hal-hal yang dianggap tragedi atau bencana (catastrophising)
5)      Lihat pada penggunaan kata-kata absolute.
6)      Lihat pada pernyataan yang menunjukkan ketidaksetujuan terhadap sesuatu atau seseorang yang konseli pikir mereka tidak dapat menahannya.
7)      Lihat pada ramalan atau prediksi masa depan.

Pribadi Bermasalah pada REBT adalah All-or-none thinking, Jumping to conclusions and negative non sequiturs, Fortune-telling, Focusing on the negative, Disqualifying the positive, Allness and neverness, Minimization, Emotional reasoning, Labeling and overgeneralization, Personalizing, Phonyism, Perfectionism[3].

C.    Pengertian dan Konsep Dasar Terapi Rasional Emotif Behavioral
Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotiv mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Albert Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang eksistensialis sekaligus seorang Neo Freudian. Yang dimaksud Ellis dengan “rasional” adalah kognisi yang efektif dalam membantu diri dari pada kognisi yang sekadar valid secara empiris maupun logis[4]. Rasionalitas orang menyandarkan diri pada memutuskan dengan cara yang masuk akal mana keinginan atau preferensi yang akan diikuti dan oleh sebab itu didasarkan pada pikiran, emosi dan perasaan.
Pada mulanya Ellis menggunakan psikoanalisis dan person-centered therapy dalam proses terapi, namun ia merasa kurang puas dengan pendekatan dan hipotesis tingkah laku konseli yang dipengaruhi oleh sikap dan persepsi mereka. Hal inilah yang memotivasi Ellis mengembangkan pendekatan rational emotive dalam psikoterapi yang dipercaya dapat lebih efektif dan efisien dalam memberikan efek terapeutik. Ellis mengembangkan teori A-B-C, dan kemudian dimodifikasi menjadi pendekatan A-B-C-D-E-F yang digunakan untuk memahami kepribadian dan untuk mengubah kepribadian secara efektif[5].
Awalnya, terapi rasional menekankan unsur kognitif dari perilaku manusia dan diperluas dengan memasukkan unsur perilaku disamping unsur kognitif. Selanjutnya berkembang pada unsur emosi dan mencakup teknik-teknik konseling perilaku seperti relaksasi, metode khayal dan latihan menyerang perasaan malu.
Rational emotive adalah teori yang berusaha memahami manusia sebagaimana adanya. Manusia adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang dihadapinya. Manusia adalah makhluk berbuat dan berkembang dan merupakan individu dalam satu kesatuan yang berarti manusia bebas, berpikir, bernafas dan  berkehendak.
Pendekatan behavioral memandang bahwa masalah yang dihadapi individu dikarenakan individu salah dalam membuat keputusan atau mengambil sikap untuk melakukan suatu tindakan. Oleh karena itu, pendekatan ini (pendekatan perilaku) di dalam konselingnya menekankan pada perilaku spesifik, yaitu perilaku yang memang berbenturan atau yang berlawanan dengan lingkungan dan diri konseli sendiri.
Pendekatan ini lebih bersifat suatu  pelatihan terhadap perilaku konseli, maka pendekatan ini menekankan pada teknik dan prosedur untuk memfasilitasi perubahan perilaku pada diri konseli. Sehingga pendekatan behavioral ini lebih mementingkan penggunakan teknik pengubah perilaku (behavior modification). Peran konselor di sini sebagai model bagi konseli dari pada kualitas hubungan konseling. Pendekatan konseling ini termasuk juga konseling behavioristik dan konseling realitas.
Yang dimaksud dengan konseling RET atau yang lebih dikenal dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah konseling yang menekankan dan interaksi berfikir dan akan sehat (rational thinking), perasaan (emoting) dan berperilaku (acting). Bahwa teori ini menekankan bahwa suatu  perubahan yang mendalam terhadap cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.

D.    Teknik-teknik Konseling Teori Rational Emotif Behavior Therapy
Pendekatan REBT menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi konseli.
a.       Teknik-teknik Kognitif
1)        Disputing irrational beliefs
Konseling secara aktif mempersoalkan keyakinan tidak rasional dan konselor mengajari konseli cara mengatasi tantangan ketidakrasionalanya sampai ia mampu menghilangkan dan melunturkan kata “harus” dalam dirinya.
2)        Doing cognitive homework
Konseli membuat daftar masalah mereka, mencari keyakinan absolut mereka dan mempertentangkan keyakinan-keyakinan tersebut.
3)        Changing one’s language
Konseli mempelajari bagaimana menyatakan bahasa yang tepat agar tidak terjadi pemikiran dan perilaku yang disfungsional.
4)        Psychoeducational methods
Memperkenalkan konseli dengan berbagai macam komponen pendidikan dan membelajarkan konseli tentang hakikat permasalahan mereka dan bagaimana proses mengatasinya.
b.      Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
1)      Rational emotive imagery
Konseli didorong untuk membayangkan salah satu kejadian pengaktif atau kesulitan terburuk yang dapat terjadi pada dirinya dan membayangkan dengan jelas kesulitan ini sedang terjadi dan membawa sejumlah masalah ke dalam hidupnya.
2)      Using humor
Penggunaan humor dapat membantu mengurangi keyakinan-keyakinan irasional dan perilaku self-defeating. Humor bisa sangat berharga untuk membantu konseli lebih santai dan tidak menganggap terlalu serius masalah hidup.
3)      Role playing
Konselor menginterupsi untuk menunjukkan pada konseli bahwa apa yang mereka katakan sendiri pada konseli untuk mengubah perasaan yang tidak sehat menjadi perasaan yang lebih sehat
4)      Shame-attacking exercises
Latihan untuk membantu orang mengurangi perasaan malu dalam melakukan sesuatu yang. Latihan ini ditujukan untuk meningkatkan penerimaan diri dan tanggung jawab serta membantu konseli memamndang bahwa sebagaian besar perasaan mereka tentang rasa malu berkaitan dengan cara mereka mengenali kenyataan.


5)      Use of force and vigor
Penggunaan kekuatan dan energi sebagai salah satu cara untuk membantu konseli berpindah dari berwawasan intelektual menjadi berwawasan emosional.
c.       Teknik-teknik Behavioristik
Teknik ini konselor menggunakan prosedur behavioral standar, seperti pengkondisian operant,  prinsip manajemen diri, desensitisasi sistematis, teknik relaksasi dan permodelan.

E.     Hakikat Manusia Menurut Teori
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan dengan sempurna. Sehingga mempunyai potensi untuk kembali kesempurnaannya, apabila individu mengalami beberapa masalah dalam dirinya. Dengan kesempurnaannya, individu dibekali akal untuk melakukan atau bertindak sesuai dengan kemampuan dan kondisi dirinya.
Teori Rasional Emotiv Behaviour Terapi adalah aliran yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berfikir rasional dan jujur maupun berpikir irasional atau jahat. Manusia memiliki kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan mencintai, bergabung dengan yang lain serta tumbuh dan mengaktualkan diri dan manusia juga mempunyai kecenderungan untuk berbuat yang sebaliknya serta manusia juga mempunyai kecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang fungsional dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Manusia sebagai individu yang unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri.
Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interprestasi dan filosofi yang didasari maupun tidak disadari oleh individu. Hambatan emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan penuh prasangka. Berpikir irrasional itu diawali dari berpikir yang tidak logis yang diperoleh oleh orang tua dan kultur tempat dibesarkan.
Pandangan Ellis (1980) terhadap konsep manusia adalah:
1.      Manusia mengkondisikan diri sendiri tehadap munculnya perasaan yang menggangggu pribadinya.
2.      Kecenderungan biologisnya sama dengan kecenderungan kultural untuk berpikir salah dan tidak ada gunanya, berakibat mengecewakan diri sendiri.
3.      Kemanusiannya yang unik untuk menemukan dan mencipta keyakinan yang salah, yang mengganggu, sama halnya dengan kecenderungan mengecewakan dirinya sendiri karena gangguan-gangguannya .
4.      Kemampuannya yang luar biasa untuk mengubah prores-proses  kognitif, emosi dan prilaku, memungkinkan dapat:
a.       Memilih reaksi yang berbeda dengan biasa dengan yang biasanya dilakukan.
b.      Menolak mengecewakan diri sendiri  terhadap hampir semua hal yang mungkin terjadi.
c.       Melatih diri sendiri agar secara setengah otomatis mempertahankan gangguan sesedikit mungkin sepanjang hidupnya.

Pendekatan terapi rasional emotif menganggap bahwa manusia pada hakekatnya adalah korban dari pola berpikirnya sendiri yang tidak rasional dan tidak benar. Kerena itu pendekatan humanistik terlalu lunak dan mengakibatkan persoalan pada diri sendiri karena berfikir tidak rasioanal. Karena itu terapis dengan pendekatan ini berusaha memperbaiki melalui pola berpikirnya dan menghilangkan pola pikir yang tidak rasional.



F.     Peran Konseling dalam Teori Rational Emotive Behavior Therapy
Berdasarkan pandangan tentang hakekat manusia tersebut di atas, maka dapat kita menarik garis untuk memahami dan mengerti hakekat konseling yang tidak akan lepas dan sangat berhubungan dengan hakekat manusia itu sendiri. Karena konseling merupakan suatu proses yang membantu permasalahan yang dialami dan rasakan manusia. Oleh karena itu untuk dapat menjabarkan dari hakekat manusia ada beberapa hakekat dari konseling yang perlu diperhatikan sebagaimana berikut:
1.      Psikologi konseling merupakan suatu proses pengalaman individu dengan penekanan pada pemikiran sehingga hubungan antar konselor dan klien sangat rasional.
2.      Psikologi konseling merupakan suatu hubungan yang bersifat pribadi antar konselor dan konseli yang ditujukan untuk membantu konseli dalam memahami, menerima, mengarahkan dan mengaktualisasikan diri.
3.      Psikologi konseling berusaha untuk membantu konseli dalam mengembangkan dirinya sesuai dengan nilai-nilai pribadi dan nilai-nilai masyarakat di sekitarnya.
4.      Oleh karena itu psikologi konseling merupakan konsep membantu konseli yang lebih luas dari pada konsep psikoterapi, karena psikologi konseling memperhatikan keseluruhan aspek individu sebagai pribadi yang menghadapi berbagai masalah untuk menemukan jati dirinya dan menyadari potensi dirinya dalam kehidupan.
5.      Dengan dasar bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, maka dalam proses psikologi konseling berusaha untuk  mengembalikan konseli kepada potensi dasarnya[6].

Dengan hakekat tersebut, maka sebagai seorang psikolog konseling harus dapat melakukan proses konseling sebaik mungkin agar hakekat konseling tidak  menyimpang atau tidak sesuai dengan hakekat individu itu sendiri.
Oleh karena itu pengetahuan dan pemahaman tentang konseling sangat berarti bagi konselor itu sendiri, pengetahuan tersebut adalah bagaimana proses konseling, langkah-langkah dan tahapan dari konseling.
REBT menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan konseli. Karakteristik proses REBT adalah sebagai berikut:
a.      Aktif-direktif
Artinya hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan konseli dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b.      Kognitif-eksperiensial
Artinya hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari konseli
dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c.       Emotif-ekspreriensial
Artinya hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi konseli dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
d.      Behavioristik
Artinya hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku konseli.

G.    Kelemahan dan Kelebihan Teori Rational Emotive Behavior Therapy
1.      Kelebihan
a.       Pendekatan REBT jelas, mudah dipelajari dan efektif. Kebanyakan konseli hanya mengalami sedikit kesulitan dalam mengalami prinsip ataupun terminologi REBT.
b.      Pendekatan REBT dapat dengan mudahnya dikombinasikan dengan teknik tingkah laku lainnya untuk membantu konseli mengalami apa yang mereka pelajari lebih jauh lagi.
c.       Pendekatan REBT relatif singkat dan konseli dapat melanjutkan penggunaan pendekatan ini secara swa-bantu.
d.      Pendekatan ini telah menghasilkan banyak literatur dan penelitian untuk konseli dan konselor. Hanya sedikit teori lain yang dapat mengembangkan materi biblioterapi seperti ini dan terus-menerus berevolusi selama bertahun-tahun dan teknik-tekniknya telah diperbaiki selanjutnya, dibuktikan efektif dalam merawat gangguan kesehatan mental parah seperti depresi dan kecemasan.

2.      Kelemahan
a.       Pendekatan ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu yang mempunyai gangguan atau keterbatasan mental, seperti schizophrenia dan mereka yang mempunyai kelainan pemikiran yang berat.
b.      Pendekatan ini terlalu diasosiasikan dengan penemunya, Albert Ellis. Banyak individu yang mengalami kesulitan dalam memisahkan teori dari keeksentrikan Ellis.
c.       Pendekatan ini langsung dan berpotensi membuat konselor terlalu fanatik dan ada kemungkinan tidak merawat konseli seideal yang semestinya.
d.      Pendekatan yang menekankan pada perubahan pikiran bukanlah cara yang paling sederhana dalam membantu konseli mengubah emosinya.

H.    Implementasi dalam Bimbingan dan Konseling di Sekolah
1.      Tujuan
Tujuan utama REBT berfokus pada membantu konseli untuk menyadari bahwa mereka dapat hidup rasional dan produktif. REBT membantu konseli agar berhenti  membuat tuntutan dan merasa kecal melalui kekacauan, konseli dalam REBT dapat mengekspresikan beberapa perasaan negatif, tetapi tujuan utamanya adalah membantu klien agar tidak memberikan tanggapan emosional melebihi yang selayaknya tehadap sesuatu peristiwa.
REBT juga mendorong konseli untuk lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain, serta mengajak mereka untuk mencapai tujuan pribadi. Tujuan tersebut dicapai dengan mengajak orang berfikir rasional untuk mengubah tingkah laku menghancurkan diri dan dengan membantunya mempelajari cara bertindak yang baru.

2.      Sikap, Peran dan Tugas Konselor
Tugas utama konselor dalam hal ini secara pokok ada dua:
a.       Interpersonal, yaitu membangun hubungan terapeutik, membangun rapport, dan suasana kolaboratif.
b.      Organisational, yaitu bersosialisasi dengan konseli untuk memulai terapi, mengadakan proses assesmen awal, menyetujui wilayah masalah dan membangun tujuan konseling.

Konselor harus aktif dan langsung. Mereka adalah instruktur yang mengajarkan dan membetulkan kognisi konseli. Melawan keyakinan yang tertanam kuat membutuhkan lebih dari sekedar logika. Dibutuhkan repetisi dan konsistensi. Oleh karena itu, konselor harus menyimak dengan cermat untuk menemukan pernyataan tidak logis atau salah dari konselinya dan keyakinan yang bertentangan. Konselor harus cerdas, berwawasan, empatik, respek, tulus, konkret, bertekad kuat, ilmiah, berminat membantu orang lain dan pengguna REBT.
Terapis REBT menganggap bahwa kondisi fasilitatif inti dari empati, penerimaan tanpa syarat dan keaslian sering diinginkan, namun itu tidak cukup untuk merubah dalam terapi konstruktif. Untuk membantu perubahan tersebut terjadi, terapis REBT perlu membantu konseli mereka untuk melakukan hal berikut:
a.       Sadarilah bahwa sebagian besar masalah psikologis ditimbulkan oleh individu itu sendiri.
b.      Mengakui sepenuhnya bahwa individu itu mampu mengatasi masalahnya.
c.       Memahami bahwa masalah individu berasal dari sebagian besar keyakinan mereka yang irasional.
d.      Mendeteksi keyakinan irasional dan membedakannya dengan  keyakinan rasional individu.
e.       Periksa keyakinan irasional individu dan keyakinan rasional individu sampai individu itu melihat dengan jelas bahwa keyakinan irasional individu itu adalah palsu, tidak logis dan tidak konstruktif, sementara keyakinan rasional individu benar, masuk akal dan konstruktif.
f.       Berusaha menuju internalisasi keyakinan baru indvidu yang irasional dengan menggunakan berbagai metode kognitif (termasuk imaginal), emosi dan metode perubahan perilaku. Dalam tindakan tertentu dengan cara-cara yang konsisten dengan keyakinan rasional individu ingin mengembangkan dan menahan diri dari bertindak dengan konsisten menggunakan keyakinan lemah individu yang irasional.
g.      Perluas proses pemeriksaan keyakinan dan menggunakan metode perubahan multimodal ke daerah kehidupan mereka yang lain dan berkomitmen untuk melakukannya selama diperlukan.

3.      Sikap, Peran dan Tugas Konseli
Umumnya, peran konseli dalam REBT mirip seorang siswa atau pelajar. Proses konseling dipandang sebagai suatu proses reedukatif di mana konseli belajar cara menerapkan pikiran logis pada pemecahan masalah.
Pengamalan utama konseli adalah mencapai pemahaman emosional atas sumber-sumber gangguan yang dialaminya. Pada taraf pertama, konseli menjadi sadar bahwa ada anteseden tertentu yang menyebabkan timbulnya irrasional belief. Taraf  kedua, konseli mengakui dirinyalah yang sekarang mempertahankan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang irasional. Tahap ketiga, konseli berusaha untuk menghadapi secara rasionalemotif, memikirkannya, dan berusaha menghapus irasional belief dan mengggantinya dengan rasional belief.
Konseli yang telah memiliki keyakinan rasional terjadi peningkatan dalam hal:
a.       Minat kepada diri sendiri
b.      Minat sosial
c.       Pengarahan diri
d.      Toleransi terhadap pihak lain
e.       Fleksibel
f.       Menerima ketidakpastian
g.      Komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya
h.      Penerimaan diri
i.        Berani mengambil risiko
j.        Menerima kenyataan

4.      Situasi Hubungan
Karena REBT pada dasarnya adalah proses perilaku kognitif dan direktif, sebuah hubungan intens antara terapis dan konseli tidak diperlukan. Seperti halnya terapi person centered  Rogers, praktisi REBT menerima tanpa syarat semua konseli dan juga mengajarkan mereja untukm menerima orang lain tanpa syarat dan diri mereka sendiri.
Namun, Ellis yakin bahwa terlalu banyak kehangatan dan pemahaman dapat menjadi kontra produktif dengan menumpuk rasa ketergantungan persetujuan dari terapis. Praktisi REBT menerima konseli mereka sebagai makhluk tidak sempurna yang dapat dibantu melalui berbagai teknik mengajar, biblioterapi dan modifikasi perilaku. Ellis membangun hubungan dengan konseli dengan menunjukkan kepada mereka bahwa ia memiliki iman yang besar dalam kemampuan mereka untuk merubah diri mereka sendiri dan bahwa ia memiliki alat untuk membantu mereka melakukan hal ini.
Terapis REBT sering terbuka dan langsung dalam pengungkapan keyakinan diri dan nilai-nilai. Mereka bersedia untuk berbagi ketidaksempurnaan diri mereka sebagai cara untuk memperjuangkan gagasan realistis konseli. Itu adalah penting untuk membangun sebanyak mungkin hubungan egaliter, sebagai lawan untuk menghadirkan diri sebagai sebuah otoritas.




[1] Op.Cit, hlm.501-502.
[2][2] Konselingkedamaianhati.blogspot.com/2014/12/rasional-emotif-behavior-therapy-rebt.html?m=1
[3] Ibid.,
[4] Richard Nelson-Jones, Teori dan Praktik Konseling dan Terapi, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011) hlm.491
[5] http://bimbingandankonseling07.blogspot.com/2012/11/rebt-rational-emotive-behavior-therapy.html
[6] Abubakar Baraja, Psikologi Konseling dan Teknik Konseling, (Jakarta: Studia Press, 2004) hlm. 30.